Traveling to Rome: Colosseum

June 22, 2020


Rencana short escape ke Roma sebenarnya sudah direncanakan untuk mengisi liburan winter tahun 2018, lumayan hunting matahari di saat suhu Belanda lagi dingin di bulan Desember. Sedihnya harga tiket pesawat sudah terlalu mahal ketika kami memutuskan untuk pergi ke Roma, wassalam deh. Winter 2018 tetap ‘dipelak’ di kampus disaat kolega yang lain liburan Natal. 

Jalan-jalan ke Roma ini baru kesampean di bulan Juli 2019. Tiket pesawat sudah ditangan sekitar dua bulan sebelum flight. Ini termasuk mendadak buat saya yang biasanya sudah merencanakan minimal lima bulan sebelum hari H. Namanya juga mahasiswa, beli tiket jauh-jauh hari tentu supaya bisa menekan harga tiket pesawat. Oh ya, maskapai yang kami pilih pastinya yang menyediakan layanan murah. All hail Ryan Air! 

Teman traveling kali ini adalah teman dekat saya yang berasal dari Vietnam. Memilih partner traveling buat saya penting banget. Saya sangat menghindari traveling dengan teman yang moody. Malesin aja kalau selama kita jalan-jalan suasananya malah jadi mencekam. 

Lama kami stay di Roma kurang lebih 4 hari 3 malam. Karena kami sampai di Roma sore hari menjelang malam, jadi di hari pertama kami hanya roaming around penginapan Airbnb, mencari tempat makan yang cukup aman dari segi halalnya, café lokal untuk sarapan, dan kopi itali tentunya! 



Nah, tempat wisata pertama yang kita kunjungi di Roma adalah Colosseum. Berbekal informasi mengenai tiket masuk Colosseum dari host Airbnb tempat kami menginap, kami lumayan bisa menghemat waktu antrian yang mengular di pintu masuk. Tiket masuk Colosseum ini tentunya bisa dibeli terlebih dahulu secara online, salah satunya di link ini

Pintu masuk Colosseum mulai dibuka jam 8.30 pagi, tapi seingat saya tiket masuk sudah disertai waktu masuk gerbang dan tiket tidak akan berlaku jika kita datang tidak sesuai waktu yang tertera. Sepertinya jumlah pengunjung per jamnya dibatasi untuk mencegah terlalu padatnya jumlah pengunjung di area dalam Colosseum. Jadi untuk yang akan berencana mengunjungi Colosseum, jangan lupa cek detail jam di tiket dan diusahakan sudah stand by minimal 15 menit di depan Colosseum. 

Antrian pengunjung terbagi menjadi dua: yang sudah memiliki tiket dan yang belum memiliki tiket. Saya hanya menunggu kurang lebih 10 menit sebelum dipersilahkan masuk oleh petugas. Berbeda dengan pengunjung yang belum memiliki tiket, saya mendengar mereka mengeluh karena sudah mengantri lebih dari 30 menit dan masih berada di antrian belakang. 

Bangunan Colosseum yang selesai dibangun tahun 80 M ini memiliki ukuran yang jauh lebih besar dan lebih luas dari ekspektasi saya. Tinggi colosseum ini ada yang menyebutkan 48 m, ada pula yang menyebutkan 55 m. Luas area dasarnya kurang lebih 6 hektar. Saking luasnya, seingat kami tidak semua pojok bangunan sempat kami kunjungi. Padahal waktu yang kami habiskan di area dalam Colosseum kurang lebih 1,5 jam. Satu lagi yang sangat disayangkan adalah kami memilih tidak menggunakan tour guide, sehingga kami melewatkan banyak cerita dan sejarah menarik mengenai bangunan yang digadang-gadang merupakan salah satu karya terbesar arsitektur Kerajaan Romawi. Colosseum ini mampu menampung 50.000 penonton lho. Takjub sekali membayangkan di tahun 72 Masehi, orang-orang Romawi bisa membangun bangunan semegah ini! 

Anyway, Colosseum menjadi salah satu tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Saran saya bagi teman-teman yang ingin berkunjung ke Colosseum, pakai sepatu yang paling nyaman untuk berjalan yaaaaa! Ciao!

You Might Also Like

1 comments

  1. akkk! wah pengen banget bisa berkunjung ke Eropa dan melihat tempat2 bersejarah seperti colosseum ini salah satunya. terimakasih udah sharing yaa.. tapi tampaknya ga ramah anak ya kalo wisata ke sini? hihi

    ReplyDelete