Seperti yang pernah disebutkan Marq di awal tulisan ini, blog ini adalah blog bertema jalan-jalan. Lalu kalo dikasih tema lagi, ehm..syulit. Apalagi tema minggu ini dari #1minggu1cerita tentang upacara bendera. Tapi tidak ada yang tidak mungkin..nyambung ga nyambung, harus nyambung! :D
Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, saya rutin melakukan upacara bendera setiap hari Senin. Sejak kelas 4 SD, saya mulai berperan dalam upacara, entah itu sebagai dirigen, pengibar bendera, pembaca undang-undang dasar, hingga ketika sudah kelas 6 merasakan jadi pemimpin upacara. Maklum, SD saya kecil saja di kampung. Keseluruhan hanya ada enam kelas. Lalu di SMP, saya mulai males-malesan upacara karena saya sering datang terlambat. Yups..rumah saya yang jauh dan kalo berangkat harus nungguin ibu, jadilah saya sering telat. Kadang saya ga ikut upacara karena terlalu terlambat untuk bergabung di barisan paling belakang sekalipun.
Memasuki SMA, akhirnya saya bebas dari rutinitas upacara bendera hari Senin..horee!! SMA saya memang bertempat di satu lokasi dengan sekolah lain, di mana penggunaan lapangan upacara dan fasilitas olahraga harus bergantian di antara dua sekolah. Lapangan depan sekolah pun bukanlah lapangan besar yang bisa menampung seluruh siswa. Jika menginginkankan upacara bendera yang layak, hanya cukup untuk satu kelas dengan guru-guru dan petugas upacara. Sehingga sekolah saya dan sekolah tetangga membuat kebijakan, upacara bendera setiap hari Senin digilir per kelas di antara dua sekolah. Asyik kan, hehe.. Jadwal saya upacara bendera hanya setahun sekali. Setelah kuliah dan bekerja, Saya tidak pernah lagi ikut upacara bendera.
Tapi ketika merantau, barulah Saya merasakan makna upacara bendera yang sesungguhnya. Dua kali saya mengalami upacara bendera ketika merantau di Jerman. Kebetulan kami tinggal di sebuah kota yang jauh dari lokasi KBRI ataupun KJRI. Ketika 17 Agustus tiba, yang bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah mengadakan upacara bendera peringatan 17 Agustus dengan fasilitas seadanya. Tanpa tiang bendera, hanya bendera merah putih yang diikatkan pada tiang kayu.
Kami mengikuti peringatan 17 Agustus di Münster, kota tempat kami tinggal enam bulan pertama di Jerman yang bisa ditempuh selama 35 menit-1 jam dari kota kami, Osnabrück. Biasanya PPI Münster (Perhimpunan Pelajar Indonesia Münster) sudah mengorganisir tempat, bendera, peralatan sederhana untuk lomba-lomba, dan hadiah-hadiah kecil untuk pemenang lomba. Untuk makanannya, masing-masing orang atau keluarga membawa makanan khas Indonesia. Ada yang membawa bakso lengkap dengan kuahnya, ada yang membawa pempek, nasi goreng, kerupuk, bala-bala, dan lain-lain.
Urutan dalam upacara benderanya tidak jauh berbeda dengan di tanah air. Mengheningkan cipta dan kami menyanyi bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya (tanpa penaikan bendera karena bendera sudah diikat di tiang), pembacaan Pancasila dan UUD 1945, pembacaan teks proklamasi, dan ditutup dengan do´a.
![]() |
| Peserta yang bertahan dari mulai persiapan, sampe buang sampah selesai acara. Sebagian yang lain udah bubar. |
Upacara bendera peringatan 17 Agustus yang sederhana ini dihadiri oleh masyarakat Indonesia di sekitar Münster-Osnabrück. Selain mahasiswa, ada juga orang Indonesia yang menikah dengan orang Jerman, para profesional Indonesia yang sudah menetap dan bekerja di Jerman, para au pair, hingga eksil yang tidak bisa pulang ke tanah air pasca peristiwa 1965.
Untuk yang sudah menikah dengan orang Jerman dan mempunyai anak-anak, kegiatan peringatan 17 Agustus ini penting untuk mengenalkan perasaan kebangsaan sebagai bangsa Indonesia kepada anak-anaknya. Tidak sedikit dari kami yang sudah tidak memegang paspor Indonesia lagi. Tapi saya yakin, keharuan yang dirasakan antara yang masih berpaspor Indonesia dan yang tidak lagi berpaspor Indonesia tetap sama. Percayalah, peribahasa yang mengatakan Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik negeri sendiri, benar adanya. Berada di manapun kami, tanah air tetaplah Indonesia dan kami tetap merindu pulang.
Selesai upacara bendera, kami lanjutkan dengan lomba-lomba seperti makan kerupuk, tebak lagu nasional dan daerah, tebak gambar yang berhubungan dengan Indonesia, dan terakhir makan-makan..bagian paling ditunggu. Kapan lagi bisa makan enak berbagai jajanan tanah air sampai puas? Hehe.. Suasana guyub khas Indonesia terasa sekali dalam perayaan sederhana ini.
Bagi saya upacara bendera tidak memiliki banyak hubungan dengan usaha menumbuhkan nasionalisme, baik di sekolah-sekolah dasar, maupun di berbagai instansi pemerintah. Mengapa? Karena sudah terbukti, upacara bendera rutin yang tidak disertai dengan pendidikan karakter tetap tidak akan berhasil membentuk generasi bangsa yang berkualitas dan cinta tanah air. Buktinya, puluhan tahun Indonesia mewajibkan upacara bendera rutin setiap hari Senin di sekolah-sekolah dan instansi pemerintah, korupsi, kerusakan lingkungan, dan berbagai hal buruk yang memiskinkan negara terus terjadi. Walaupun begitu, seuntai doa teriring selalu untuk bumi pertiwi dan rakyatnya, semoga terus melangkah ke arah yang lebih baik.
Selesai upacara bendera, kami lanjutkan dengan lomba-lomba seperti makan kerupuk, tebak lagu nasional dan daerah, tebak gambar yang berhubungan dengan Indonesia, dan terakhir makan-makan..bagian paling ditunggu. Kapan lagi bisa makan enak berbagai jajanan tanah air sampai puas? Hehe.. Suasana guyub khas Indonesia terasa sekali dalam perayaan sederhana ini.
Bagi saya upacara bendera tidak memiliki banyak hubungan dengan usaha menumbuhkan nasionalisme, baik di sekolah-sekolah dasar, maupun di berbagai instansi pemerintah. Mengapa? Karena sudah terbukti, upacara bendera rutin yang tidak disertai dengan pendidikan karakter tetap tidak akan berhasil membentuk generasi bangsa yang berkualitas dan cinta tanah air. Buktinya, puluhan tahun Indonesia mewajibkan upacara bendera rutin setiap hari Senin di sekolah-sekolah dan instansi pemerintah, korupsi, kerusakan lingkungan, dan berbagai hal buruk yang memiskinkan negara terus terjadi. Walaupun begitu, seuntai doa teriring selalu untuk bumi pertiwi dan rakyatnya, semoga terus melangkah ke arah yang lebih baik.



