Trip to Malang Raya (part 1)It was started on Thursday morning. Karena beberapa hal yang agak mendadak, saya jadi ujug-ujug harus berangkat ke Kota Batu (Malang Raya) sore itu. Jam 15.30 hari Kamis tanggal 19 Februari, saya dan seorang teman berada dalam taksi menuju ke Bandara Soekarno-Hatta (dari daerah Pejompongan) dengan perasaan takut telat. Soalnya pesawat yang akan kami naiki jam 16.50. Akhirnya, jam 16.50 saya pun terbang menuju Surabaya naek Mandala (It was my second flight..hehehe...kampring).
Pesawat mendarat di Surabaya jam 18.20, dengan cuaca di Surabaya hujan. Kami langsung menuju bis Damri yang akan menuju terminal Bungurasih Surabaya. Perjalanan Juanda-Bungurasih sekitar 30 menit ongkosnya Rp. 15.000. Sambil menunggu bis penuh, saya bertanya ke kondektur bisnya, kalo mau ke Malang sebaiknya turun di mana. Dengan penuh semangat si Bapak langsung ngejelasin pake bahasa Jawa, lengkap dengan nyebutin nama-nama daerah ini dan itu. Demi menghargai Bapak yang baik hati tersebut, saya pun mengangguk-angguk so’ ngerti. Ketika akhirnya Bapak tersebut nanya “Sampeyan orang sini toh?”, dan saya pun menjawab “Bukan Pak”. Kemudian si Bapak lagi, “ngerti bahasa Jawa?”, dan saya pun menjawab “Ngga Pak”. Si Bapak melanjutkan, “Oalah...gimana toh..” akhirnya seorang Mas2 di depan tempat duduk saya menjelaskan pake bahasa Indonesia ini dan itu nya.
Kemudian kami pun sampai di terminal Bungurasih. Mas2 yang tadi menunjukkan kami tempat beli tiket bis patas yang menuju ke Malang. Tapi kemudian di tempat beli tiket tadi, seorang Bapak menasehati agar kami tidak membeli tiket bis di bawah, “Jangan sekali-kali beli tiket di bawah. Belinya nanti aja kalo udah di atas bis”. Gitu katanya, soalnya yang di bawah itu calo dan harganya bisa berkali-kali lipat! (harga sebenarnya: Rp. 15.000) Selanjutnya Bapak itu mengantar kami ke tempat ngetem bis Patas jurusan Malang. Saat itu waktu menunjukkan pukul 20.00. Sebelum bis berangkat, kami membeli roti dan air minum, soalnya perjalanan agak lama (sekitar 2 jam).
Ketika akhirnya bis berangkat, saya memilih duduk dekat jendela, biar bisa mengamati jalan yang dilewati. Beruntung sekali, saat itu jalanan tidak macet. Bis berjalan dengan kecepatan tinggi. Saya terus mengamati jalan, hingga melewati kepulan asap dari semburan lumpur Lapindo. Ini ketiga kalinya saya lewat sini. Miris, ketika saya melewatinya untuk yang kedua kali, saat itu siang hari dan banyak orang yang sengaja berkunjung seolah-olah berwisata. Di satu sisi korban Lapindo menderita, sementara yang lainnya menjadikan itu sebagai objek wisata.
Jam 21.30, bis memasuki terminal bis Arjosari Malang. Dari situ kami mencari “lyn” (dibaca: len) ADL yang akan membawa kami ke terminal Landungsari, Batu. Lyn adalah sebutan orang Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) dan ternyata juga Surabaya (mungkin juga daerah-daerah lain di Jatim) untuk angkot. Satu temuan lagi, bahwa ternyata Batu merupakan sebuah kota mandiri, yang terdiri dari tiga kecamatan, bukan lagi bagian dari Kabupaten Malang (sejak ±1999). Ongkos angkot ADL jurusan Arjosari-Landungsari ini sekitar Rp. 4000, perjalanan sekitar 30 menit.
Selanjutnya, kami berdua dijemput oleh teman di terminal Landungsari. Dari Landungsari menuju Songgoriti (tempat acara berlangsung) sekitar 15 menit. Jalanan menuju Songgoriti mulai menanjak dan sedikit berkelok-kelok seperti Jalan menuju Lembang, Bandung. Saat itu jam sudah menunjukkan ±22.00.
Kami sampai di Songgoriti sekitar jam 23.00. Tempat pelatihan Parlemen Pemuda kali ini berada di sebuah hotel pemandian air panas jadul di Songgoriti, Malang. Oh ya, sebenarnya saya ke Batu ini tidak dalam rangka jalan-jalan. Saya ke sini karena teman saya mengajak untuk membantu di acara pelatihan Parlemen Pemuda nya IPC (Indonesian Parliamentary Center), which I’ll always voluntary volunteered..hehehe..(volunteer kok bilang-bilang :D). I’ll write about it in a special chapter next time.
Banyak temuan-temuan lain yang saya dapat dari perjalanan ini, terutama tentang bahasa.
-tatat-
it's not the end yet, 2:24 PM.
nostalgia makan-makanYihaa..posting lagi! :D
Tanggal 5 Februari lalu, salah satu crew blog ini, Feby sidang. Hari itu, yang juga masa her-registrasi, banyak dari HI angkatan 2003 berkumpul. Hmm..ga sampe sepuluh sie, tapi itu jumlah yang cukup besar pada saat-saat seperti ini. Buat saya, saat ngumpul-ngumpul adalah saat yang paling menyenangkan. Hehe..bisa foto-foto, ngobrol-ngobrol, dan ketawa-ketiwi ampe sakit perut. Ngeliat si gendut novrizal, saya jadi inget makan-makan di rumahnya pertengahan desember 2007 lalu. Di rumah yang dekat tempat makam pahlawan itu masih bisa mengumpulkan 15 manusia HI 2003. Katanya sie waktu itu makan-makan perpisahan Haryo yang mao S2 ke Yogya sama traktiran ultah si gendut dan buncit. Pokok intinya sie..makan-makan!!! Hahaha...
Menu makan malam itu adalah nasi, kerupuk, ayam berbumbu, tahu dan tempe goreng, serta dessert buah semangka. Slurrp..makanan yang cukup mewah buat anak kosan. :)


Can't wait for another upcoming makan-makan time! Hoho..wait for the report, okay?
it's not the end yet, 5:36 PM.
Seandainya muncul pertanyaan "mengapa?", ini salah satu analisisnya =)
Mengapa katumbiri? Karena kami pertama kali dipertemukan di Tanah Parahyangan, di kaki Gunung Geulis dan Manglayang, yang mayoritas penduduknya berbahasa Sunda. Meskipun tak semua dari kami penduduk asli Jawa Barat, bahasa Sunda banyak memberikan sentuhan khasnya pada kehidupan kami.
Mengapa pelangi? Bukan karena Laskar Pelangi yang baru booming. Lebih karena banyaknya keindahan yang patut disyukuri ketika pelangi muncul. Tidak cuma pelangi yang nampak indah, tapi sekelilingnya pun seolah tertular keindahannya. Warna-warninya berpadu menjadi satu harmoni sempurna.
Mengapa kami mencari jejak katumbiri? Karena kami percaya, dalam setiap jejaknya, akan ada pula keindahan yang terungkap. Untuk mencapai keindahan, tentu diperlukan proses dan usaha. Kami percaya, proses dan usaha akan membawa kami pada petualangan-petualangan yang memperkaya kehidupan itu sendiri. Berproses, berusaha, dan menjadi indah.
it's not the end yet, 10:39 PM.
Jejak KatumbiriAda yang bilang bahwa hidup para petualang itu seperti kuda liar.Mereka pergi mencari dunia, mencari hal-hal yang tak pernah mereka temui sebelumnya..Kuda-kuda itu pergi ke mana kaki membawa badan mereka, menggeliat dan berusaha melepas tali kekang yang mengikat mereka.Tak ada yang mampu menaklukan mereka selagi mereka masih memiliki tenaga untuk melihat dunia.Namun, ada kalanya sang kuda liar lelah dan ingin kembali ke rumah.Layaknya burung yang lelah terbang mengitari angkasa lalu pulang kembali ke sangkar.Beberapa hari yang lalu, timbul keinginan dari tiga perempuan untuk kembali mencari dan memberikan eksistensi mereka di dunia maya. Segala konsep dirancang. Semua nama disebutkan. Dan mendapat sebuah titik temu akan sebuah dokumentasi rangkaian perjalanan yang pernah dilalui. Titik temu itu bernama katumbiri, bahasa Sunda dari Pelangi. Tak ada lagi yang perlu dijelaskan mengenai pelangi. Semua orang sudah tahu bahwa pelangi adalah sebuah bias warna-warni cahaya setelah hujan turun. Banyak filosofi di balik sebuah pelangi. Perempuan-perempuan itu hanya mencoba menelusuri kembali jejak pelangi, jejak katumbiri.Satu orang perempuan lainnya, yang pernah menghadapi perjalanan yang sama, hendak ikut serta. Tak ada yang bisa menolak bantuan. Begitu pula bila ada perempuan lain atau laki-laki yang hendak bergabung. Mari bersama menelusuri jejak katumbiri..
it's not the end yet, 4:36 PM.